Pulihkan Trauma Pasca-Gempa Flores, Tim Psikologi Polda NTT Beri Teknik Butterfly Hug dan Terapi USEFT untuk Warga Ende
TribrataNewsEnde.Com - Senyum dan rasa tenang perlahan kembali menghiasi wajah warga Jalan Anggrek, Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende. Pascabencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Pulau Flores dan menyisakan rasa cemas serta ketakutan di tengah masyarakat, Kepolisian Negara Republik Indonesia hadir menyapa dan menguatkan warga melalui kegiatan Trauma Healing, Rabu (19/8/2026).
Berlokasi di Bukit Sion, kegiatan kemanusiaan yang dimulai pukul 10.00 Wita tersebut diikuti sekitar 200 warga terdampak. Melalui pendekatan psikologis yang hangat, humanis dan penuh kekeluargaan, Tim Psikologi Gabungan dari Polda NTT dan Polda Jatim bersama Polwan Polres Ende mengajak masyarakat untuk memulihkan kondisi emosional dan mental agar dapat kembali bangkit serta menata kehidupan pascabencana.
Dalam kegiatan tersebut, warga diberikan sejumlah metode pemulihan trauma yang praktis, sederhana dan menyenangkan, di antaranya teknik Butterfly Hug (Pelukan Kupu-Kupu) serta terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Metode tersebut diberikan sebagai upaya membantu meredakan kepanikan, mengurangi rasa takut dan kecemasan yang masih membayangi warga, sekaligus menumbuhkan kembali rasa aman dan nyaman, khususnya bagi anak-anak dan kelompok lanjut usia.
Kegiatan trauma healing dipimpin langsung oleh Kabag Psikologi RO SDM Polda NTT Kompol Chrismawan, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dengan pendampingan Paur Subbagpsipers RO SDM Polda Jatim Iptu Ellan Wahyudi, S.Psi., Psikolog, serta didukung personel tim konselor dari Polres Ende.
Yang menarik dan menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kehadiran Srikandi-Srikandi Polres Ende yang tampil penuh semangat dengan senyuman manis, keramahan, serta sentuhan cinta dan kasih kepada masyarakat. Kehadiran para Polwan tersebut mampu menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya masih diliputi rasa takut dan cemas akibat gempa.
Dengan penuh kesabaran dan keceriaan, para Srikandi Polres Ende mengajak anak-anak mengikuti setiap gerakan yang diperagakan, mulai dari gerakan senam sederhana, permainan, hingga gerakan pelukan kupu-kupu. Anak-anak pun tampak antusias menirukan setiap gerakan, tertawa dan berinteraksi dengan para Polwan.
Senyum yang terpancar dari wajah anak-anak menjadi gambaran bahwa trauma pascabencana dapat perlahan diredakan melalui pendekatan yang penuh kasih, perhatian dan kebersamaan. Kehadiran para Srikandi Polres Ende bukan sekadar memberikan pendampingan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan semangat kepada anak-anak untuk kembali ceria.
Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata, S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla., menyampaikan bahwa kehadiran tim psikologi merupakan wujud kepedulian nyata Polri terhadap kesehatan mental masyarakat pascabencana.
“Kami tidak hanya fokus pada pemulihan fisik dan infrastruktur, tetapi juga kesehatan jiwa masyarakat. Gempa bumi meninggalkan rasa cemas dan ketakutan yang mendalam. Melalui trauma healing ini, kami ingin membantu warga memulihkan keseimbangan emosional agar mereka bisa kembali menatap hari esok dengan tenang dan beraktivitas normal,” Ujar Kapolres Ende.
Ia menambahkan, Polri ingin memastikan bahwa kehadiran personel tidak hanya dirasakan ketika masyarakat membutuhkan bantuan dalam penanganan kondisi darurat secara fisik, tetapi juga ketika mereka membutuhkan kekuatan untuk memulihkan mental dan emosional.
“Kami ingin memastikan bahwa Polri tidak hanya hadir pada saat penanganan darurat fisik, tetapi juga hadir untuk memeluk jiwa dan mental warga yang terguncang. Tujuan kami adalah mengembalikan keseimbangan emosional masyarakat agar mereka bisa tersenyum dan beraktivitas normal kembali,” ujarnya.
Keceriaan semakin terasa ketika anak-anak bersama para Srikandi Polres Ende mengikuti setiap gerakan dengan penuh antusias. Senyum, tawa dan semangat yang muncul menjadi warna tersendiri di tengah suasana pascagempa yang masih menyisakan kekhawatiran. Tidak hanya anak-anak, masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Setelah mengikuti senam pelukan dan terapi pelepasan emosi yang dibimbing secara humanis, warga terlihat lebih rileks dan tenang.
Kehadiran jajaran kepolisian di tengah pemukiman warga pun disambut hangat. Rasa cemas yang sebelumnya menggelayuti perlahan mencair, berganti dengan gelak tawa, senyum dan suasana kekeluargaan. Kegiatan trauma healing tersebut menjadi bukti bahwa penanganan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah, fasilitas umum dan infrastruktur yang terdampak, tetapi juga tentang memulihkan hati, menenangkan pikiran dan menumbuhkan kembali harapan masyarakat.
Melalui langkah nyata tersebut, Polri berharap masyarakat Kabupaten Ende semakin tangguh dalam menghadapi situasi pascabencana, mampu melepaskan rasa takut yang berlebihan, serta kembali menata kehidupan sehari-hari dengan penuh keyakinan dan optimisme.
Di tengah jejak bencana yang meninggalkan luka, kehadiran para Srikandi Polres Ende dengan senyum, kasih dan kepedulian seolah menjadi pesan sederhana namun bermakna: bahwa masyarakat tidak sendiri, karena selalu ada tangan-tangan yang hadir untuk menguatkan, hati yang peduli untuk menenangkan, dan senyum yang mengajak kembali percaya bahwa hari esok akan lebih baik.
User

